Kalau selama ini liburan di Indonesia cuma identik dengan pantai, gunung, dan cafe aesthetic, mungkin sudah waktunya melihat Indonesia dari sisi yang berbeda. Ada banyak festival di berbagai daerah yang bukan cuma seru didatangi, tapi juga punya cerita, tradisi, dan budaya yang nggak akan kamu temukan di tempat lain. Mulai dari perang dengan tombak di atas kuda, menangkap cacing laut, sampai ritual potong rambut gimbal anak-anak. Yup, semuanya benar-benar ada di Indonesia. Jadi, kalau kamu lagi cari alasan buat traveling sambil mendapatkan pengalaman yang nggak biasa, 10 festival ini wajib masuk travel list.
Daftar isi
- Dieng Culture Festival (Dieng, Jawa Tengah)
- Pasola (Sumba, Nusa Tenggara Timur)
- Bau Nyale (Lombok, Nusa Tenggara Barat)
- Cap Go Meh & Festival Tatung (Singkawang, Kalimantan Barat)
- Tabuik (Pariaman, Sumatera Barat)
- Mekare-Kare (Tenganan, Bali)
- Festival Danau Sentani (Papua)
- Jember Fashion Carnaval (Jember, Jawa Timur)
- Tomohon International Flower Festival (Tomohon, Sulawesi Utara)
- Erau Adat Kutai (Tenggarong, Kalimantan Timur)
1. Dieng Culture Festival — Dieng, Jawa Tengah


Sumber foto: Wasty Ratundima
Dieng Culture Festival biasanya digelar sekitar Agustus, dan tahun ini telah berlangsung pada 28 – 30 Agustus. Dieng bukan cuma soal sunrise, Candi Arjuna, dan udara super dingin. Salah satu hal yang paling menarik dari festival ini adalah ruwatan rambut gimbal anak-anak Dieng. Beberapa anak di Dieng dipercaya memiliki rambut yang tumbuh menggimbal secara alami dan rambut tersebut tidak boleh dipotong sembarangan. Ada prosesi adat khusus yang meliputi kirab, ritual, hingga pemotongan rambut.
Selain ritual rambut gimbal, DCF juga diramaikan dengan pertunjukan seni, kirab budaya, festival kopi, UMKM, hingga pertunjukan musik di tengah dinginnya dataran tinggi Dieng. Kalau kamu ingin menikmati festival budaya dengan suasana yang beda dari festival kebanyakan, Dieng bisa jadi pilihan. Apalagi, sekalian bisa eksplor berbagai destinasi di sekitar Dieng.
2. Pasola — Sumba, Nusa Tenggara Timur


Sumber foto: Sukaery
Pasola biasanya berlangsung sekitar Februari – Maret, tetapi tanggalnya mengikuti kalender adat dan kemunculan nyale. Bayangkan dua kelompok penunggang kuda berhadapan dan saling melempar lembing kayu. Itulah Pasola, salah satu tradisi paling ikonik di Sumba. Tradisi ini berkaitan erat dengan kepercayaan Marapu dan kehidupan agraris masyarakat Sumba, sehingga pelaksanaannya tidak bisa ditentukan sembarangan.
Justru karena itulah Pasola terasa berbeda dari festival pada umumnya. Kamu bukan hanya datang untuk melihat atraksi berkuda, tetapi juga menyaksikan salah satu tradisi yang masih punya peran penting dalam kehidupan masyarakat lokal. Kalau kamu suka cultural trip yang intens dan jauh dari pengalaman wisata mainstream, Pasola wajib masuk radar.
3. Bau Nyale — Lombok, Nusa Tenggara Barat


Sumber foto: Windu Nugrahanto
Bau Nyale biasanya berlangsung pada Februari, dengan tanggal yang mengikuti kalender Sasak dan waktu kemunculan nyale. Kalau ada festival yang membuat ribuan orang datang ke pantai untuk menangkap cacing laut, inilah dia. Dalam bahasa Sasak, bau berarti menangkap, sedangkan nyale merujuk pada cacing laut yang muncul dalam jumlah besar pada waktu tertentu. Tradisi ini juga berkaitan dengan legenda Putri Mandalika yang sudah menjadi bagian dari cerita masyarakat Lombok.
Tapi jangan bayangkan ini cuma acara “berburu cacing”. Bau Nyale juga diisi dengan berbagai pertunjukan budaya dan menjadi salah satu momen penting bagi masyarakat Lombok. Dan jujur, kapan lagi bisa pulang dari liburan Lombok dengan cerita, “Aku ke pantai buat nangkap cacing laut?”.
4. Cap Go Meh & Festival Tatung — Singkawang, Kalimantan Barat


Sumber foto: Jaqueline Dias
Cap Go Meh di Singkawang mengikuti kalender Imlek, dan pada 2027 nanti puncaknya jatuh sekitar 20 Februari. Singkawang terkenal dengan perayaan Cap Go Meh yang meriah, terutama karena kehadiran para Tatung dalam parade. Mereka tampil berkeliling kota dengan berbagai atraksi yang bagi banyak orang terlihat ekstrem dan tidak biasa. Jalanan Singkawang pun berubah menjadi lautan manusia, warna, musik, ornamen, dan prosesi budaya.
Festival ini cocok buat kamu yang mencari pengalaman budaya dengan visual yang benar-benar kuat. Satu kota bisa berubah jadi panggung festival besar, lengkap dengan parade yang memenuhi jalanan. Jadi kalau kamu suka traveling sambil hunting foto dan video yang beda dari biasanya, Singkawang layak masuk list.
5. Tabuik — Pariaman, Sumatera Barat


Sumber foto: Thee Uty
Festival Tabuik biasanya berlangsung pada bulan Muharram dan mencapai puncaknya pada 10 Muharram. Salah satu bagian paling menarik adalah arak-arakan tabuik, yaitu bangunan besar penuh ornamen yang dibawa keliling kota sebelum akhirnya dilarung ke laut dalam prosesi Hoyak Tabuik. Pada 2026, rangkaian acaranya berlangsung pada Juni dan puncaknya jatuh pada 28 Juni.
Lebih dari sekadar festival yang menarik untuk dilihat, Tabuik memperlihatkan bagaimana sejarah, tradisi, seni, dan kehidupan masyarakat Pariaman bertemu dalam satu perayaan. Kalau kamu ingin melihat sisi budaya Sumatera Barat yang berbeda dari sekadar kuliner dan pemandangan alam, festival ini bisa jadi alasan buat datang ke Pariaman.
6. Mekare-Kare — Tenganan, Bali


Sumber foto: Mank Arya
Mekare-Kare atau Perang Pandan biasanya digelar sekitar Juni dan mengikuti kalender adat Desa Tenganan. Namanya mungkin terdengar cute, tapi tradisinya cukup intens. Para pemuda akan berduel menggunakan ikatan daun pandan berduri sebagai senjata dan perisai rotan. Tenang, ini bukan perang sungguhan, melainkan bagian dari upacara adat masyarakat Bali Aga di Tenganan Pegringsingan untuk menghormati Dewa Indra.
Yang menarik, setelah duel selesai, tidak ada drama berkepanjangan. Luka yang muncul akan dirawat dan para peserta kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Kalau kamu sudah sering melihat Bali dari sisi beach club, sunset, dan cafe, Mekare-Kare bisa jadi cara berbeda untuk mengenal budaya Bali yang masih hidup sampai sekarang.
7. Festival Danau Sentani — Papua


Sumber foto: Olivia Yustina
Festival Danau Sentani biasanya digelar sekitar pertengahan tahun, meski tanggalnya dapat berubah; pada 2026, pelaksanaannya digeser menjadi 1 – 5 September. Salah satu daya tariknya adalah pertunjukan Isosolo, yaitu tarian yang dilakukan di atas perahu tradisional. Festival ini juga menghadirkan musik, seni, kerajinan, kuliner, dan berbagai pertunjukan budaya masyarakat di sekitar Danau Sentani.
Jadi, bukan cuma datang untuk menonton festival, kamu juga bisa melihat langsung bagaimana budaya masyarakat Sentani berjalan berdampingan dengan kehidupan di sekitar danau. Kalau kamu mencari festival dengan setting yang nggak biasa, pertunjukan budaya di tengah lanskap Danau Sentani jelas punya daya tarik sendiri.
8. Jember Fashion Carnaval — Jember, Jawa Timur


Sumber foto: Ella Byrne
Jember Fashion Carnaval biasanya berlangsung sekitar Juli – Agustus, dan tahun ini telah digelar pada 24 – 26 Juli. Lupakan fashion show dengan runway biasa. Di Jember Fashion Carnaval, jalanan kota berubah menjadi catwalk raksasa dengan kostum berukuran besar, makeup dramatis, musik, koreografi, dan parade yang memenuhi pusat kota.
JFC juga dikenal sebagai salah satu street fashion carnival terbesar di Indonesia. Kalau kamu suka fashion, photography, atau sekadar mencari pengalaman yang nggak biasa, ini bisa jadi festival yang seru banget buat didatangi. Outfit festival pun sekalian bisa maksimal tanpa takut overdressed.
9. Tomohon International Flower Festival — Tomohon, Sulawesi Utara


Sumber foto: David Clift
Tomohon International Flower Festival biasanya berlangsung sekitar Agustus, dan pada tahun 2026 ini telah digelar pada 7 – 12 Agustus dengan parade kendaraan hias pada 8 Agustus. Sesuai julukannya sebagai Kota Bunga, festival ini menghadirkan kendaraan yang dihias dengan ribuan bunga dan diparadekan melewati jalan utama kota. Selain parade, ada juga karnaval budaya, pameran florikultura, seni, dan berbagai kegiatan ekonomi kreatif.
Festival ini cocok buat kamu yang suka foto-foto karena hampir setiap sudutnya punya sesuatu untuk dilihat. Bunga, kendaraan hias, kostum, dan suasana Tomohon yang dikelilingi pegunungan? Camera roll bisa penuh dalam sehari.
10. Erau Adat Kutai — Tenggarong, Kalimantan Timur


Sumber foto: Busu Dayat
Erau Adat Kutai biasanya berlangsung sekitar September, dan pada 2026 telah dijadwalkan pada 20 – 27 September. Festival ini berkaitan dengan Kesultanan Kutai Kartanegara dan menghadirkan berbagai ritual adat, pertunjukan seni, serta prosesi budaya yang mempertemukan tradisi Kesultanan dengan masyarakat. Suasananya bisa terasa seperti melihat potongan sejarah Nusantara yang masih hidup di tengah kota.
Buat kamu yang tertarik dengan sejarah dan budaya Indonesia, Erau bisa jadi pengalaman yang berbeda dari festival modern. Karena di sini, traveling bukan cuma soal melihat tempat baru, tapi juga melihat bagaimana sebuah tradisi terus bertahan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sampai sekarang.
Jadi, Mau Datang ke Mana Dulu?
Indonesia ternyata nggak pernah kehabisan alasan buat traveling. Dari rambut gimbal di Dieng, perang berkuda di Sumba, berburu nyale di Lombok, Tatung di Singkawang, sampai Perang Pandan di Bali, setiap daerah punya cara sendiri untuk merayakan budaya dan menjaga tradisinya tetap hidup.
Kamu nggak harus cuma jadi penonton festival dari layar HP. Pilih satu, tandai periodenya, cari tiket, dan rasakan sendiri pengalaman yang nggak bisa digantikan oleh Reels. Karena traveling bukan cuma soal ke mana kamu pergi, tapi juga cerita apa yang kamu bawa pulang.







